Update Informasi dan Viral Trending Topics Twitter Facebook Path dan Instagram.

Thursday, 14 April 2016

Bagaimana Jika??? Menikah Dengan Kondisi Hamil

Trendingtopics.netnit.net - Belakangan banyak orang yang menikah disebabkan oleh suatu kecelakaan, yakni hamil duluan. Dalam bahasa masa kini disebut Married by Accident (MBA).  Sehingga tidak jarang pernikahan itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan tanpa ada pesta mewah.Yang penting, sudah ada pernikahan dan aib mereka pun bisa tertutupi secepat mungkin.
 
Lantas, bagaimana Islam memandang pernikahan model semacam ini? Apakah Islam membolehkan atau melarangnya? Lalu bagaimana jika yang menikahi wanita hamil itu justru bukan lelaki yang menghamilinya?

Mayoritas ulama membolehkan wanita yang sudah hamil duluan dinikahi oleh lelaki yang menghamilinya. Hanya saja, menurut Imam Ahmad, Qatadah, Ishaq, dan Abu Ubaid, mereka harus bertaubat dahulu. Jika tidak, pernikahannya dianggap tidak sah.  Mereka berdalil pada ayat yang artinya, “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mukminin.” (QS an-Nur [24]: 3)

Sedangkan menurut Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, mereka tetap mengesahkan pernikahan wanita hamil tanpa harus bertaubat lebih dahulu.

Jika mereka bertaubat, lalu apa yang harus mereka lakukan?

Menurut sebagian ulama, jika terjadi di negara Islam, mereka harus menjalani hudud (hukuman Allah SWT) terlebih dahulu seperti dicambuk 100 kali bagi yang masih lajang. Sedangkan, jika terjadi di negara sekuler seperti Indonesia misalnya, maka mereka diminta untuk benar-benar taubat nasuhah.

Caranya bagaimana?


Caranya adalah apa yang diajarkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar 2/845 tentang taubat nasuhah, yaitu: Pertama, meninggalkan perilaku dosa itu sendiri. Kedua, menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan. Ketiga, berniat tidak melakukannya lagi selamanya. Keempat, membebaskan diri dari hak manusia yang dizalimi.

Setelah itu, barulah wanita yang hamil karena perzinaan ini bisa dinikahkan dengan laki-laki yang telah menghamilinya. Hal itu juga disahkan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) Pasal 2 Ayat (1). Dalam Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga disebutkan, seorang wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkannya perkawinan saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Mayoritas ulama dari Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat, tidak ada iddah bagiwanita yang hamil di luar nikah untuk melangsungkan pernikahan. Artinya, wanita yang hamil di luar nikah dapat dinikahkan sesegera mungkin tanpa harus menunggu kelahiran anaknya.

Lantas, bagaimanakah hukumnya jika wanita yang hamil di luar nikah dinikahkan dengan laki-laki yang tidak menghamilinya?

Mayoritas ulama baik salaf maupun khalaf pun memperbolehkan hal ini. Bahkan, menurut Syekh Yusuf Al Qaradhawi, wajib bagi seorang Muslim untuk menikahi wanita yang sedang hamil di luar nikah, meski ia bukan lelaki yang menghamilinya. Hal itu untuk mengobat hati dan mendampingi para Muslimah tersebut pascatrauma, dan menjaga bayi tak berdosa tersebut sampai dilahirkan ke dunia.

Namun terkait hal ini, mazhab Abu Hanifah menegaskan, memang boleh hukumnya menikahi wanita yang tengah hamil di luar nikah, namun belum boleh berjima’ dengannya. Kebolehan berjima’ hanya dibolehkan jika laki-laki yang menikahi merupakan orang yang menghamilinya. Adapun jika si suami bukanlah orang yang menghamilinya maka mereka harus menunggu sampai masa istibro’ (rahim telah kosong dari janin dan telah haid minimal sekali).

Hal ini berdalil dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri RA tentang sabda Rasulullah SAW tentang tawanan wanita di Perang Authos. “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haidh satu kali.” (HR Ahmad).

Demikian tentang status hukum pernikahan wanita yang hamil duluan. Terlepas dari semuanya itu, untuk sahabat Muslimah, hendaklah kita menjauhi seks pra nikah. Meski bagaimanapun, hari akan terasa jauh lebih indah di kala kesucian kita diserahkan pada lelaki yang kita cintai di malam pertama pernikahan kita.

Semoga sahabat Muslimah termasuk orang-orang yang bisa menjaga kesucian diri hingga pernikahan tiba. Amin.
Sumber : muslimah.co.id

Bagaimana Jika??? Menikah Dengan Kondisi Hamil Rating: 4.5 Diposkan Oleh: FJB Bontang