Update Informasi dan Viral Trending Topics Twitter Facebook Path dan Instagram.

Friday, 15 April 2016

Pinjaman Tunai Jaminan BPKB Bagaimana Hukumnya?

Pinjaman Tunai Jaminan BPKB Bagaimana Hukumnya?
Sahabat Ummi, saat ini banyak pihak yang bersedia meminjamkan uang tunai dan bisa cair dalam waktu beberapa jam saja dengan syarat jaminan BPKB motor atau mobil. Nah, sebenarnya secara syariah Pinjaman Tunai Jaminan BPKB Bagaimana Hukumnya?
Secara syar'i, ar-rahn (agunan) yakni harta yang dijadikan jaminan utang adalah hal yang boleh dilakukan dan pernah dicontohkan Rasulullah.
Ar-Rahn atau jaminan bahkan disyariatkan dalam Islam. Allah Swt. berfirman: “Jika kalian dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sementara kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (TQS al-Baqarah [2]: 283).
Aisyah ra. menuturkan: “Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau mengagunkan baju besinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Anas ra. juga pernah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam pernah mengagunkan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR al-Bukhari).
Harta tersebut haruslah sesuatu yang telah menjadi milik kita, tidak boleh menjadikan harta orang lain sebagai jaminan untuk utang kita.
Yang menjadi masalah dalam pinjaman tunai dengan jaminan BPKB yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah adanya unsur riba di dalam perjanjian transaksi tersebut. Yakni kelebihan uang yang harus dibayarkan untuk melunasi pinjaman. 
Misalnya, hanya meminjam 3 juta Rupiah, tapi total yang harus dibayar sampai pelunasan mencapai 5 juta Rupiah, adanya kelebihan 2 juta Rupiah inilah yang mengandung riba.
Semestinya pihak peminjam hanya berkewajiban mengembalikan uang yang dipinjamkan senilai yang dia terima. Lebih dari itu, terhitung riba.
Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mengatakan, “Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”
Oleh karena itu, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah setiap kaum muslimin yang sedang butuh dana, tidak boleh menggadaikan barangnya ke lembaga yang mempersyaratkan riba apapun namanya.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat 10 orang (di antaranya): pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksi transaksi riba, dan orang mencatat transaksinya.” (HR. Ahmad 635)
Jika kita meminjam uang dengan menyetujui akan memberikan kelebihan (riba) saat pengembalian utang tersebut, maka bisa dibilang kita adalah pihak pemberi makan riba, naudzubillah min dzalik.
Solusi sementara yang bisa ditawarkan, cari teman atau kerabat yang paham syariat dan memiliki kelebihan harta, kita bisa meminjam uang kepadanya tanpa ada syarat bunga atau tambahan apapun. 
Sebagai jaminan kepercayaan, kita bisa menjadikan barang yang nilainya lebih mahal sebagai barang gadai. Semoga Allah memberikan keberkahan untuk transaksi ini.
Bagi Sahabat Ummi yang masih memiliki utang yang mengandung riba, semoga Allah mudahkan untuk melunasi dan tidak lagi terjerat dalam pinjaman tunai mengandung riba seperti ini. Wallaahualam.

Pinjaman Tunai Jaminan BPKB Bagaimana Hukumnya? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: FJB Bontang